Langit biru yang cerah hari ini mengingatkan saya pada lembah mandalawangi
september 2011 yang lalu. Saya memang belum pernah ke lembah ini
sebelumnya, lembah yang dapat dicapai setelah melewati puncak Gunung
Pangrango. Jalan setapak yang saya lalui untuk mencapai tempat ini adalah
jalur yang sama dengan jalur yang saya lewati sekitar empat tahun silam,
saat saya dan teman-temanku naik ke puncak Gunung Gede. Namun, rasanya
semua begitu berbeda, telaga biru, kandang badak, air panas atau bahkan
surya kencana-pun serasa berbeda. Mungkin karena sampah-sampah itu.
Sampah yang ditinggalkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Orang-orang yang hanya bisa menikmati tanpa bisa menjaga. Orang-orang
yang mengaku pecinta alam namun sebenarnya tak lebih dari seorang
perusak alam. Sedih rasanya ketika saya ingin mengambil air untuk minum
di Kandang Badak. Kulihat banyak sekali sampah disekitarnya bahkan
mencemari sumber air. Kemana pikiran-pikiran si perusak itu? Tak
sadarkah mereka bahwa sumber air ini sangat penting bagi kehidupan semua
makhluk hidup di Gunung ini. Seenaknya saja mereka mencemari air jernih
itu dengan air cucian piring mereka. Dengan air kotor dan sampah-sampah
plastik yang menjijikan. Mungkin jika mereka disuruh kembali untuk
memakai air yang telah mereka cemari, mereka tak akan mau memakainya.
Saat itu saya berfikir, memang hanya sedikit orang yang sadar dan peduli
kepada alam, sisanya hanyalah penikmat.
 |
|
Di lembah Mandalawangi, nampak
lebih gersang, bunga Edelweis-pun hanya sedikit yang berbunga. Mungkin
memang cuaca yang mempengaruhinya. Namun katanya, September ini-pun ada
kebakaran di Pangrango, penyebabnya? Yahh mungkin sudah bisa ditebak,
putung rokok. Si perusak itu dengan seenaknya membuang putung rokoknya
sembarangan tanpa memastikan apinya padam terlebih dahulu. Hhhh memang
sulit menyadarkan orang-orang seperti itu. Ngomong-ngomong, saya belum
pernah melihat hewan liar selain burung di Taman Nasional ini. Padahal saya senang sekali kalau melihat hewan-hewan itu bergerak bebas di
sepanjang jalur pendakian. Nikmat aja rasanya melihat kebebasan mereka.
Mungkin mereka memang takut menampakkan diri di depan manusia atau
jumlah mereka yang tinggal sedikit? Entahlah.. Saya ingin kembali ke 4
tahun silam dimana gunung ini lebih terjaga dari tangan-tangan kotor.
Dimana surya kencana masih memiliki air jernih yang mengalir, langit
biru yang cerah, bunga edelweis yang subur dan rumput hijau segar
berembun. Suatu hari nanti mungin saya akan kembali kesini untuk
menyaksikan keindahannya kembali. Entah akan kembali seperti dulu atau
bahkan bertambah rusak. Jika itu terjadi, saya bertekad akan ikut
membantu mereka-mereka yang peduli untuk operasi bersih gunung ini. Yah
karena alasan yang sederhana, saya ingin kelak anak saya nanti masih bisa
menikmati pemandangan yang sama, pemandangan indah Mandalawangi dan
Surya Kencana seperti saya dulu.
Sori komennya OOT nih, hehe. follow blog gw yee, dah bisa difollow tuh sekarang kayak blogspot. :D
ReplyDeleteKotak follownya ada di bagian paling bawah, hhe.
AndiARahman's Blog