Saturday, December 3, 2011

Menyapa Mandalawangi

Langit biru yang cerah hari ini mengingatkan saya pada lembah mandalawangi september 2011 yang lalu. Saya memang belum pernah ke lembah ini sebelumnya, lembah yang dapat dicapai setelah melewati puncak Gunung Pangrango. Jalan setapak yang saya lalui untuk mencapai tempat ini adalah jalur yang sama dengan jalur yang saya lewati sekitar empat tahun silam, saat saya dan teman-temanku naik ke puncak Gunung Gede. Namun, rasanya semua begitu berbeda, telaga biru, kandang badak, air panas atau bahkan surya kencana-pun serasa berbeda. Mungkin karena sampah-sampah itu. Sampah yang ditinggalkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Orang-orang yang hanya bisa menikmati tanpa bisa menjaga. Orang-orang yang mengaku pecinta alam namun sebenarnya tak lebih dari seorang perusak alam. Sedih rasanya ketika saya ingin mengambil air untuk minum di Kandang Badak. Kulihat banyak sekali sampah disekitarnya bahkan mencemari sumber air. Kemana pikiran-pikiran si perusak itu? Tak sadarkah mereka bahwa sumber air ini sangat penting bagi kehidupan semua makhluk hidup di Gunung ini. Seenaknya saja mereka mencemari air jernih itu dengan air cucian piring mereka. Dengan air kotor dan sampah-sampah plastik yang menjijikan. Mungkin jika mereka disuruh kembali untuk memakai air yang telah mereka cemari, mereka tak akan mau memakainya. Saat itu saya berfikir, memang hanya sedikit orang yang sadar dan peduli kepada alam, sisanya hanyalah penikmat.

Di lembah Mandalawangi, nampak lebih gersang, bunga Edelweis-pun hanya sedikit yang berbunga. Mungkin memang cuaca yang mempengaruhinya. Namun katanya, September ini-pun ada kebakaran di Pangrango, penyebabnya? Yahh mungkin sudah bisa ditebak, putung rokok. Si perusak itu dengan seenaknya membuang putung rokoknya sembarangan tanpa memastikan apinya padam terlebih dahulu. Hhhh memang sulit menyadarkan orang-orang seperti itu. Ngomong-ngomong, saya belum pernah melihat hewan liar selain burung di Taman Nasional ini. Padahal saya senang sekali kalau melihat hewan-hewan itu bergerak bebas di sepanjang jalur pendakian. Nikmat aja rasanya melihat kebebasan mereka. Mungkin mereka memang takut menampakkan diri di depan manusia atau jumlah mereka yang tinggal sedikit? Entahlah.. Saya ingin kembali ke 4 tahun silam dimana gunung ini lebih terjaga dari tangan-tangan kotor. Dimana surya kencana masih memiliki air jernih yang mengalir, langit biru yang cerah, bunga edelweis yang subur dan rumput hijau segar berembun. Suatu hari nanti mungin saya akan kembali kesini untuk menyaksikan keindahannya kembali. Entah akan kembali seperti dulu atau bahkan bertambah rusak. Jika itu terjadi, saya bertekad akan ikut membantu mereka-mereka yang peduli untuk operasi bersih gunung ini. Yah karena alasan yang sederhana, saya ingin kelak anak saya nanti masih bisa menikmati pemandangan yang sama, pemandangan indah Mandalawangi dan Surya Kencana seperti saya dulu. 


Friday, October 21, 2011

Mahasiswa Ohh Mahasiswa


       Dalam posting ini, saya ingin nulis semua pendapat saya yang berkaitan dengan "Mahasiswa" khususnya aksi-aksi mahasiswa belakangan ini. Demonstrasi biasanya selalu berkaitan dengan mahasiswa. Karena biasanya pelakunya itu mahasiswa. Yahh walaupun gak semuanya sihh. Kadang juga dilakukan oleh buruh, petani, dan oknum-oknum lain yang merasa dirugikan dan mau protes. Jujur dari jaman-jaman SMP saya suka sebel sama yang namanya demonstrasi. Dulu sih saya cuma bisa mikir kalo demo tuh cuma aksi panas-panasan gak jelas yang bikin macet. Aksi berkoar-koar yang cuma bikin cape badan sama bikin haus tenggorokan. Dan apa yang mereka dapat? Apakah semua protes dan aksi-aksi mereka didengar pemerintah? Didengar dan diperhatikan khalayak ramai? Tapi sekarang, seiring pertambahan usia saya, saya juga udah menjadi mahasiswa. Dan pikiran saya berubah tentang aksi demo itu. Bahkan pernah terbesit dipikiran saya untuk ikut demo. Namun tentu saja demo yang saya maksud disini adalah demo dengan aksi 'damai' bukan demo anarkis dengan membakar benda-benda yang sebetulnya masih amat sangat berguna yahh seperti mobil, ban, motor dll. Pendapat saya sekarang sihh saya setuju-setuju aja sama yang namanya demo. Tapi yang damai, bukan yang anarkis. Sekarang coba pikir deh. Ada untungnya gak bersikap anarkis? Ngebakar barang-barang? Yang ada cuma bikin polusi, bau, dan bikin barang itu jadi mubazir. Ngebakar mobil misalnya? Pernah lho saya ngeliat aksi kaya gitu. Sayang banget mobilnya dibakar dan hancur cuma buat pelampiasan rasa amarah dari si pendemo. 
Hei guys, demo kadang emang penting dan jadi kebutuhan seluruh lapisan masyarakat untuk menyalurkan aspirasi mereka, uneg-uneg mereka kepada instansi yang berkaitan. Karena kalo demo gak ada dan dilarang, pasti pemerintah atau pihak-pihak terkait lainnya gak ada yang tau kalo kita pada protes, pada sengsara dengan keadaan yang dialami, ya gak? Yang pasti mereka ancang-ancang kaki dan berleha-leha karena pikirnya rakyat udah aman sentosa, bahagia dan sejahtera padahal kenyataanya?



      Kembali lagi ke mahasiswa. Mahasiswa = pemuda. Pemuda = penggerak bangsa. Ya, tanpa pemuda mau dibawa kemana bangsa ini? Karena merekalah (termasuk saya) calon pemimpin masa depan. Dan segala bentuk penyaluran aspirasi mereka diwujudkan dengan (kembali lagi) demonstrasi. Hmm kalo menurut pengamatan saya kebanyakan yang ikut demo tuh mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir, mahasiswa-mahasiswa yang bisa dibilang (maaf tanpa ada maksud menyinggung) lagi vakum lagi gak ada kerjaan. Jarang banget saya ngeliat mahasiswa yang demo tuh dari universitas ternama dengan jurusan yang bisa dikatakan cukup populer. Ya iyalah, tentu saja waktu bagi mereka lebih tepat dipakai untuk belajar, cari kerja, atau ngerjain tugas-tugas. Tapi terkadang, kalo saya amatin, demo-demo yang dilakukan tuh percuma. Karena kadang dasarnya gak jelas. malah kebanyakan yang ikut demo itu hanya ikut-ikut saja. Mereka gak tau apa yang mereka lakukan. Mereka gak tau atas dasar apa mereka protes. Dan mereka gak kasih solusi, jadi jatohnya cuma protes dan berkoar-koar atas dasar yang gak jelas. Padahal apa yang mereka lakukan haruslah dipertanggungjawabkan. Dan saya yakin, kalau nanti suatu saat mereka ada di posisi pemerintah mungkin menjadi menteri atau wakil rakyat, belum tentu mereka bisa menjadi lebih baik. Who knows? Saat ini mereka (termasuk saya) mungkin masih bertekad bulat untuk menciptakan pemerintahan yang bersih. Tapi gak bisa dipungkiri juga mungkin nanti suatu saat kami bahkan akan menjadi seperti atau bahkan lebih buruk dari mereka. Apalagi dengan kondisi negeri ini, dengan mental bobrok yang kian terpuruk. Kalau menurut saya, dari pada terus berdemo dan protes terus menerus kepada kinerja pemerintah (tanpa maksud membela pemerintah) lebih baik kita para pemuda-pemudi dan juga mahasiswa terpelajar berlomba-lomba untuk belajar dan mengembangkan diri untuk jadi lebih baik sehingga kelak dapat mengganti pemerintahan dan memimpin bangsa ini menjadi bangsa yang hebat. Karena, kita ini teladan dan pengumbar aspirasi, kunci dari kejayaan sebuah negara. Buktikanlah pada dunia, bahwa Indonesia beruntung mempunyai pemuda-pemuda hebat seperti kita. Buatlah keluarga, guru, teman, dan bangsa ini bangga dengan prestasi kita, bukan karena aksi protes kita yang tanpa solusi atau anarkis yang dapat menimbulkan kekacauan dan mengganggu masyarakat. Yahh kalaupun mau protes,/demo dengan cara damai aja yaa. Dengan cara yang lebih elegan dan terpelajar. Ya gak? Hidup Mahasiswa!!